Posted on 16 Juli 2009 by ajar ilmu
Seringkali masyarakat awam bingung, untuk apa saja sih sebenarnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) itu? Sebab seringkali juga putra atau putri mereka yang bersekolah di SD Negeri, masih saja dikenakan biaya-biaya (tarikan, pent.) oleh pihak sekolah. Padahal promo/iklan sekolah gratis begitu amat sangat gencar di berbagai media, terutama televisi.
Berikut saya cuplikkan tulisan dari Bp. Satria Dharma dalam millis Dikbud tentang peruntukkan penggunaan dana BOS.
Biaya Satuan Pendidikan
Terdiri dari:
• biaya investasi adalah biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sdm, dan modal kerja tetap.
• biaya operasi, terdiri dari biaya personalia dan biaya non-personalia.
• bantuan biaya pendidikan yaitu dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang orang tua atau walinya tidak mampu membiayai pendidikannya
• beasiswa adalah bantuan dana pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang berprestasi
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: kebijakan pendidikan | Ditandai: bos | Leave a Comment »
Posted on 16 Juli 2009 by ajar ilmu
JAKARTA, KOMPAS.com ― Sedini mungkin anak sudah bisa membaca atau tetap dibiarkan saja bermain, hal itu tidak perlu dipersoalkan. Anak sedang asyik-asyiknya bermain, ya, biarkanlah bermain. Karena dari situlah kerap minatnya akan membaca muncul.
“Minat membaca tidak dipaksakan karena hal itu harus disesuaikan dengan kondisi si anak, orangtualah yang harusnya menyesuaikan bagaimana minat bisa ditumbuhkan sesuai kondisi,” ujar Dr Sumaryati Arjoso, mantan Kepala BKKBN, dalam diskusi “Membangun Budaya Baca Sejak Lahir” di Jakarta, Kamis (16/7).
Sumaryati mengatakan, sedini mungkin anak sudah berminat membaca atau sebaliknya lebih asyik menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain, bukan sesuatu hal yang penting dan kontroversial.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: kebijakan pendidikan | Ditandai: paud | Leave a Comment »
Posted on 11 Juni 2009 by ajar ilmu
Bandung (ANTARA News) – Institut Teknologi Bandung (ITB) manjaring calon mahasiswa dari kalangan keluarga tidak mampu dari seluruh Indonesia melalui sistem jalur penerimaan mahasiswa baru “ITB Untuk Semua.”
Penerimaan mahasiswa baru jalur “ITB Untuk Semua” diperuntukkan bagi para lulusan SMA/MA/SMK dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi tapi memiliki prestasi dan kemampuan belajar, kata panitia bidang promosi ITB Untuk Semua, Andrianto kepada ANTARA di Bandung, Selasa.
Seleksi penyaringan tahap pertama dilakukan pada 29 Mei 2009 di kampus ITB Jalan Ganesha diikuti 3.187 orang peserta dari seluruh Indonesia dan berhasil terjaring 200 orang calon mahasiswa.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: kebijakan pendidikan | Ditandai: itb | Leave a Comment »
Posted on 11 Juni 2009 by ajar ilmu
Raih buku yang paling dekat dengan anda saat ini. Lalu perhatikan dibagian sampul belakangnya dan halaman judul. Ambil juga majalah yang terdekat dengan anda, lalu lihatlah di sampul depannya atau di halaman yang memuat keterangan redaksi.
Apakah anda melihat deratan angka-angka yang mirip begini; ISBN : 979-3210-30-3 Kira-kira anda bisa menebak nggak itu angka kenapa ada disitu dan kenapa sih di depan deretan angka itu ada tulisan ISSN atau ISBN? Memang pasti anda bisa nebak bahwa itu adalah singkatan. Mungkin singkatan yang menerangkan apa sebenarnya arti nomor-nomor tersebut. Namun saya yakin walau anda sudah tahu kepanjangannya masih tidak mengetahui latar belakang nomor-nomor itu nemplok di sana. Walaupun di Indonesia ini beberapa buku dan majalah tidak memuat angka-angka yang saya singgung di atas. Namun hampir sebagian besar telah memilikinya.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Ditandai: isbn, issn | Leave a Comment »
Posted on 10 Juni 2009 by ajar ilmu
Catatan Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni
Oleh: Abdul Wahid
Ada suatu nasihat yang sering kita dengar, kesuksesan menangani
masalah besar sangat ditentukan oleh keberhasilan mengatasi persoalan yang dianggap sepele (ringan). Seseorang yang terbiasa mengabaikan persoalan kecil mungkin tidak perlu dipercaya untuk menangani masalah besar. Pasalnya, dia tidak akan punya kemampuan menanganinya. Kebiasaan mengabaikan masalah kecil akan membuatnya tidak cukup kapabel untuk
diberi kepercayaan menyelesaikan persoalan besar.
Realitas yang sering kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat adalah membiasakan atau membiarkan persoalan kecil tidak tertangani maupun tertunda-tunda. Masalah kecil dianggap tidak akan menjadi beban atau penyakit yang mengancam dan merugikan masyarakat. Padahal, sudah banyak pelajaran yang menunjukkan akibat sikap itu. Contohnya sampah yang
dibiarkan menggunung. Begitu terjadi longsor sampah, manusia yang hidup di sekitarnya terkubur hidup-hidup.
Problem lain yang dianggap kecil oleh masyarakat adalah buang air kecil (kencing). Mudah kita temukan elemen masyarakat yang berdiri di pinggir jalan atau tengah kerumunan sedang kencing. Akibatnya, lingkungan hidup berbau tidak nyaman.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: pembelajaran | Ditandai: fikih kecing | Leave a Comment »