[ Minggu, 10 Mei 2009 ]
SLEMAN- Anak yang lahir berkebutuhan khusus jangan diperlakukan seperti kebanyakan bocah pada umumnya. Misalnya anak autis yang sangat hiperaktif. Anak autis biasanya susah bersosialisasi dan seakan asyik dengan dunianya sendiri. Bagaimana cara mengasuh anak-anak hiperaktif ini?
Sekolah Khusus sekaligus Lembaga Terapi Autisma dan Hiperaktif “Mutiara Qur’ani” Yayasan Taruna Al Qur’an melakukan pelatihan pada sekitar 71 orang yang terdiri dari mahasiswa, guru, pemerhati anak dan umum dalam penanganan anak autis.
Ketua “Mutiara Qur’ani” Sri Kushartati mengatakan akan menerapkan terapi Al’ Qur’an pada anak-anak autis yang ada di lembaga yang dipimpinnya. Baik calon siswa baru atau anak-anak yang saat ini resmi menempuh pendidikan di Mutiara Qur’ani. “Terapi dilakukan tiap pagi dan sore dengan memperdengarkan ayat-ayat Al Qur’an kepada siswa autis. Teknik inilah yang kami sampaikan pada peserta pelatihan,” papar Sri ditemui di kantornya Jl Lempongsari No 48 Ngaglik, Sleman, kemarin (9/5). Berdasarkan pengalaman beberapa ahli, kata Sri, terapi Al Qur’an terbukti ampuh dalam menghadapi sekaligus memberi pendidikan kepada anak dengan kebutuhan khusus atau hiperaktif.
Sri mengatakan pelatihan dasar ini bertujuan memberikan keterampilan pendampingan anak autis dan hiperaktif kepada para peserta agar anak (autis) yang ditanganinya bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu untuk memberikan keterampilan untuk membuat program penanganan anak autis dan hiperaktif untuk mendapatkan hak hidupnya dengan metode terapi tepat sesuai kebutuhannya. Materi yang diberikan meliputi pengetahuan mengenai autis dan hiperaktif, membangun jiwa terapis/guru/pendamping, terapi ABA, penyusunan kurikulum program terapi, serta cara membuat evaluasi atau laporan perkembangan terapi. “Sebagian calon terapis akan kami tarik sebagai pendidik di lembaga baru yang akan kami buka nanti. Satu pendamping untuk satu siswa autis,” kata Sri. (yog)
sumber: indopos
DIarsipkan di bawah: anakku, pembelajaran






Anak saya hanivah (8), belum bisa bicara. Saat ini menjalani terapi terapi di YPAC semarang. Kata terapisnya anak saya penyandang dispraxya, adakah hubunganya dgn autis?, saya tertarik dgn terapi lumba-lumba di kendal.Mohon penjelasan tentang terapi tsb.Terima kasih..
Maaf Pak. Saat ini penanganan anak dengan kebutuhan khusus, termasuk dispraxya di dalamnya sangatlah minim. Oh ya, biasanya anak yang terdiagnosa dispraxya adalah anak yang tidak bisa diam. Ia menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Menggigit siapa saja yang menyentuhnya, dan berteriak kapan pun ia mau. Seolah tenaganya tidak pernah habis. Biasanya para psikolog seringkali menggolongkan sebagai anak yang hyperaktif.
Apakah memang demikian diagnosa dari psikolog atau psikiater? Sebab seorang terapis, belum tentu psikolog atau psikiater. Jika berkenan dapat kontak saya via e-mail atau sms. Terima kasih.
Saya mempunyai anak laki-laki usia 7 tahun yang memiliki ciri-ciri autis. Bisakah saya dapat mengetahui cara-cara terapi Al Qur’an ini untuk saya terapkan pada anak saya? Saya tinggal di Medan. Terimakasih
Insyaalloh, bisa. Namun tetap tidak meninggalkan tritmen yang selama ini telah dilakukan. Untuk lebih jelasnya dapat kontak saya. Syukron. Jazakalloh khoiron.
Mari Kita Mengikuti Sunnah Rasulillah
Insyaalloh, sudah seharusnya setiap muslim wajib mengikuti contoh dari Rosululloh.